
Oleh: Arief Paturusi | initimes.com
BULELENG — Sepasang sepatu baru itu tampak sedikit kebesaran di kaki mungil Kesya. Di pelukannya, seekor boneka teddy bear hampir setinggi tubuhnya seolah menjadi teman baru yang siap menemani hari-harinya. Di sampingnya, sebuah tas sekolah baru telah menunggu untuk dipakai saat ia kembali belajar.
Di balik semua hadiah itu, akhirnya terselip sebuah senyum.
Senyum yang beberapa hari lalu nyaris hilang bersama kepergian ayah yang begitu dicintainya.
Namun, senyum itu tidak serta-merta menghapus luka yang tersimpan di hati seorang anak berusia delapan tahun.
Karena ada kehilangan yang tak pernah bisa diganti oleh apa pun.
Seorang Anak yang Terlalu Dini Mengenal Kehilangan
Kesya, siswi kelas II sekolah dasar asal Desa Sidetapa, Kabupaten Buleleng, Bali, mendadak menjadi perhatian publik setelah ayahnya meninggal dunia akibat aksi main hakim sendiri di Kabupaten Tabanan.
Peristiwa itu tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga mengguncang nurani masyarakat Indonesia.
Di usia yang seharusnya dipenuhi cerita tentang cita-cita, permainan, dan tugas sekolah, Kesya justru harus belajar menerima kenyataan pahit bahwa sosok yang selama ini menggandeng tangannya tak akan pernah lagi pulang.
Tidak ada anak yang pernah siap kehilangan ayahnya.
Terlebih ketika kehilangan itu datang secara tiba-tiba dan menyisakan begitu banyak pertanyaan yang belum mampu dipahami oleh seorang anak kecil.
Gelombang Kepedulian Mengalir
Ketika kisah Kesya viral di media sosial, ribuan hati ikut tergerak.
Masyarakat dari berbagai latar belakang berlomba-lomba memberikan bantuan sebagai bentuk empati kepada keluarga kecil itu.
Pegiat sosial asal Bali, Mangku Sekaan, menjadi salah satu yang pertama datang. Ia menyerahkan dua pasang sepatu bermerek Nike dan Adidas, serta paket sembako untuk keluarga Kesya.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah sepasang sepatu.
Namun bagi Kesya, hadiah itu menjadi simbol bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap dirinya.
Dukungan serupa juga datang dari pengusaha sekaligus kreator konten asal Bali, Ni Kadek Indrayoni. Ia memberikan bantuan uang tunai sambil menyemangati Kesya agar tetap kuat menjalani cobaan hidup.
Di tengah suasana haru, Kesya hanya mengucapkan satu kalimat sederhana.
“Aku sekarang dalam keadaan baik.”
Kalimat yang singkat.
Namun siapa pun yang mendengarnya tahu, luka di hati seorang anak tidak akan sembuh hanya dalam hitungan hari.
Uluran Tangan untuk Masa Depan Kesya
Kepedulian masyarakat terus berdatangan.
Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga sekaligus menunjang pendidikan Kesya di masa mendatang.
Keluarganya juga menerima bantuan berupa satu unit sepeda motor Honda Scoopy yang diberikan kepada sang ibu untuk memudahkan mobilitas sehari-hari.
Seniman Bali, Ary Ulangun, melalui media sosialnya menegaskan bahwa bantuan tersebut lahir dari rasa kemanusiaan.
“Kami tidak membenarkan tindakan pencurian dan tidak membenarkan juga tindakan penghakiman hingga merenggut nyawa seseorang.”
Perhatian juga datang dari selebgram Aisar Khaleed.
Ia menghadiahkan boneka teddy bear, tas sekolah, dan bantuan uang tunai.
Pesan yang ia sampaikan menyentuh banyak hati.
“Kamu kehilangan sosok ayah, tetapi kamu tidak akan pernah kehilangan cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingmu.”
Kalimat itu mungkin tidak mampu mengembalikan sosok ayah.
Tetapi setidaknya mengingatkan Kesya bahwa ia tidak sendirian.
Di Balik Senyum Itu, Ada Pertanyaan yang Belum Terjawab
Bantuan boleh terus berdatangan.
Senyum Kesya perlahan mungkin akan kembali.
Namun ada satu pertanyaan yang tetap menggantung di benak banyak orang.
Mengapa semua ini harus terjadi?
Tak ada yang membenarkan pencurian.
Perbuatan melawan hukum tetap harus diproses melalui mekanisme hukum yang berlaku.
Namun dalam setiap negara hukum, keadilan juga berjalan berdampingan dengan nilai kemanusiaan.
Karena itulah banyak pihak mempertanyakan bagaimana sebuah dugaan tindak pidana akhirnya berujung pada hilangnya nyawa seseorang.
Pertanyaan ini bukan sekadar tentang satu keluarga.
Ini adalah pertanyaan tentang wajah keadilan di negeri ini.
Negeri Kaya, Tetapi Masih Menyisakan Ironi
Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alam.
Emas.
Nikel.
Minyak.
Gas.
Hutan.
Laut.
Semuanya menjadi kebanggaan bangsa.
Namun di tengah limpahan kekayaan itu, masih banyak rakyat yang hidup dalam keterbatasan.
Masih ada nenek yang memungut butiran beras.
Masih ada orang tua yang bekerja tanpa kepastian penghasilan.
Masih ada anak-anak yang harus mengubur mimpinya karena kemiskinan.
Ironi inilah yang sering memunculkan pertanyaan besar.
Mengapa di negeri yang begitu kaya, masih ada warga yang berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar?
Di sisi lain, masyarakat juga berulang kali menyaksikan berbagai kasus dugaan korupsi dan penyalahgunaan kewenangan dengan nilai yang sangat besar.
Kontras tersebut menghadirkan perasaan getir di tengah masyarakat.
Bukan karena hukum harus dibedakan, tetapi karena keadilan selalu diharapkan hadir secara setara bagi siapa pun.
Luka yang Tak Bisa Diganti
Hari ini Kesya memang kembali tersenyum.
Sepatu baru akan menemaninya ke sekolah.
Tas baru akan menyimpan buku-buku pelajarannya.
Boneka itu mungkin akan dipeluknya setiap malam.
Namun satu hal tetap tidak akan pernah kembali.
Pelukan ayahnya.
Tidak ada donasi yang mampu membeli kembali kasih sayang seorang ayah.
Tidak ada hadiah yang mampu menggantikan tangan yang dahulu menggandengnya ke sekolah.
Tidak ada bantuan yang mampu menghapus rasa kehilangan yang akan ia bawa hingga dewasa.
Catatan Nurani
Barangkali, suatu hari nanti Kesya akan tumbuh menjadi perempuan dewasa.
Ia akan membaca kembali kisah yang pernah mengubah hidupnya.
Ia akan tahu bahwa ribuan orang pernah mendoakannya.
Bahwa banyak tangan pernah mengulurkan bantuan.
Bahwa banyak hati pernah menangis untuknya.
Namun semoga, ketika hari itu tiba, Indonesia juga telah belajar.
Belajar bahwa hukum harus ditegakkan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Belajar bahwa kemiskinan tidak boleh dibiarkan menjadi alasan seseorang kehilangan martabatnya.
Dan belajar bahwa tidak boleh ada lagi seorang anak yang kehilangan ayah karena amarah yang mengambil alih akal sehat.
Sebab pada akhirnya, kisah Kesya bukan hanya tentang seorang anak yang kehilangan ayah.
Ia adalah cermin bagi kita semua.
Sebuah pengingat bahwa ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa besar kekayaan alam yang dimilikinya, melainkan seberapa besar bangsa itu mampu menjaga martabat setiap manusia yang hidup di dalamnya.
Karena ketika seorang anak menangis kehilangan ayahnya, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya sebuah keluarga.
Melainkan nurani seluruh bangsa.








Tinggalkan Balasan