
SOFIFI, INITIMES- Dua belas inovasi mengantarkan Takdir Ali Mahmud, S.ST., M.Si., meraih penghargaan Inovator Terbaik dalam Innovation Government Award (IGA) Maluku Utara 2025. Di balik penghargaan itu, terdapat jejak kerja yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi diterjemahkan menjadi terobosan di sejumlah perangkat daerah.
Penghargaan tersebut diserahkan Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Drs. H. Samsuddin A. Kadir, M.Si., dalam rangkaian upacara dan apel bersama di Lapangan Kantor Gubernur Maluku Utara, Senin, 10 Agustus 2026.
Takdir saat ini dikenal melalui kiprahnya di Biro Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Sekretariat Daerah Provinsi Maluku Utara. Dari lingkungan biro tersebut, ia mengembangkan berbagai gagasan yang diarahkan untuk memperkuat kinerja organisasi sekaligus memperbaiki tata kelola pengadaan barang dan jasa.
Namun, penghargaan itu bukan semata cerita tentang seorang pegawai yang memenangkan sebuah kompetisi inovasi.
Ada capaian kelembagaan yang ikut mengiringinya.
Kontribusi Takdir turut mengantarkan Biro PBJ Setda Provinsi Maluku Utara meraih peringkat pertama sebagai Perangkat Daerah Terinovatif. Biro tersebut sekaligus mempertahankan predikat sebagai OPD Sangat Inovatif selama dua tahun berturut-turut.
Di titik ini, ukuran prestasi tidak lagi berhenti pada nama yang tercetak dalam piagam. Dua belas inovasi yang dikembangkan Takdir menjadi bagian dari perubahan cara kerja di lingkungan birokrasi.
Inovasi diarahkan untuk menjawab kebutuhan organisasi dan pelayanan pemerintahan: meningkatkan kinerja, memperkuat tata kelola pengadaan, serta mendorong proses yang lebih efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
Bagi Pemerintah Provinsi Maluku Utara, penghargaan terhadap inovator merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi pemerintahan. Sebab, inovasi tidak lahir semata dari kebijakan yang tersusun di atas kertas. Ia membutuhkan orang yang mau menemukan persoalan, mencari jalan keluar, menguji gagasan, lalu mengubahnya menjadi praktik kerja.
Takdir menjadi salah satu figur yang mendapat apresiasi atas proses tersebut.
Penghargaan Inovator Terbaik diberikan atas kontribusi dan dedikasinya dalam melahirkan serta mengembangkan inovasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, khususnya di Biro PBJ.
Tetapi ada satu bagian dari perjalanan kerja Takdir yang membuat capaian tersebut menjadi lebih menarik.
Sebelum berkiprah di Biro PBJ, ia pernah bertugas di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Maluku Utara. Masa tugasnya di sana berlangsung kurang lebih delapan bulan. Waktu yang relatif singkat itu justru melahirkan satu terobosan yang kemudian ikut membawa Kesbangpol masuk sebagai salah satu perangkat daerah penerima penghargaan inovasi dalam ajang IGA Maluku Utara 2025.
Inovasi tersebut bernama ORMAS BALAPOR.
“Kurang lebih delapan bulan bertugas di Kesbangpol saya mampu membuat terobosan inovasi sehingga Kesbangpol masuk dalam salah satu OPD penerima inovasi. Dengan judul inovasi: ORMAS BALAPOR,” ujar Takdir.
Catatan itu penting karena memperlihatkan bahwa prestasi Takdir tidak semata dibangun dari posisinya sekarang di Biro PBJ. Jejak inovasinya juga tercatat ketika ia ditempatkan di perangkat daerah lain.
Dengan kata lain, penghargaan yang diterimanya tidak berdiri sendiri. Ada rekam kerja yang dapat ditelusuri dari satu institusi ke institusi lainnya.
Di Biro PBJ, terdapat dua belas inovasi yang dikembangkan. Di Kesbangpol, terdapat ORMAS BALAPOR yang ikut berkontribusi mengantarkan perangkat daerah tersebut masuk dalam jajaran penerima penghargaan inovasi pada IGA Maluku Utara 2025.
Dari sana terlihat satu pola: inovasi yang dikerjakan Takdir bukan sekadar upaya mengejar predikat.
Ia menjadi instrumen untuk menjawab persoalan birokrasi.
Sebab, sebuah inovasi pada akhirnya tidak diukur dari seberapa sering namanya disebut atau berapa banyak penghargaan yang diterima. Ukuran yang lebih penting adalah apakah gagasan tersebut mampu mengubah cara kerja organisasi, memperbaiki proses, dan memberikan dampak terhadap pelayanan pemerintahan.
Di Biro PBJ Maluku Utara, dua belas inovasi itu menjadi bagian dari upaya menuju perubahan tersebut. Sementara pengalaman di Kesbangpol menunjukkan bahwa gagasan serupa juga dapat tumbuh ketika Takdir berada di lingkungan kerja yang berbeda.
Penghargaan Inovator Terbaik akhirnya menjadi semacam titik temu dari perjalanan tersebut.
Ada penghargaan individual. Ada pula prestasi kelembagaan yang menyertainya.
Biro PBJ menjadi Perangkat Daerah Terinovatif peringkat pertama dan mempertahankan predikat OPD Sangat Inovatif selama dua tahun berturut-turut. Kesbangpol pun tercatat sebagai salah satu OPD penerima penghargaan inovasi IGA Maluku Utara 2025 melalui kontribusi inovasi ORMAS BALAPOR.
Pada akhirnya, penghargaan mungkin hanya menjadi penanda. Yang lebih panjang adalah pekerjaan setelahnya: memastikan inovasi tidak berhenti sebagai dokumen, program lomba, atau materi penilaian.
Ketika inovasi telah masuk ke dalam budaya kerja, penghargaan bukan lagi tujuan utama.
Ia menjadi konsekuensi dari birokrasi yang terus mencoba memperbaiki dirinya.






Tinggalkan Balasan