
TERNATE, INITIMES.COM – Di saat budaya membaca kian terdesak oleh derasnya arus media sosial, masih ada orang-orang yang percaya bahwa perubahan besar selalu berawal dari satu halaman buku.
Sore itu, di sela kesibukannya sebagai birokrat, Syarif Tjan tampak tenggelam dalam sebuah buku. Tak ada suara notifikasi telepon genggam yang mengganggu konsentrasinya. Di tangannya terbuka lembar demi lembar buku Keraguan Filsafat karya Imam Al-Ghazali. Wajahnya tenang. Sesekali ia berhenti, mengulang sebuah paragraf, lalu melanjutkan membaca.
Pemandangan seperti itu semakin langka.
Di tengah rendahnya minat baca yang sering menjadi keluhan banyak pihak, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate itu justru menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-harinya.
Di usianya yang telah menginjak 56 tahun, semangat membaca Syarif justru tidak surut. Usia yang bagi sebagian orang menjadi masa untuk mengurangi aktivitas belajar, baginya justru menjadi waktu untuk terus memperkaya pengetahuan. Semangatnya menekuni buku patut diacungi jempol, sekaligus menjadi pengingat bahwa belajar tidak pernah mengenal batas usia.
Ketika ditanya jenis bacaan favoritnya, ia menjawab ringan.
“Saya paling suka buku-buku self improvement atau pengembangan diri. Tapi pada dasarnya semua buku saya baca. Setiap buku selalu menawarkan cara pandang baru,” ujarnya.
Bagi Syarif, membaca bukan sekadar hobi. Ia menganggap buku sebagai kebutuhan yang sama pentingnya dengan makanan.
“Membaca buku adalah cara saya memberi makan pikiran saya yang bodoh. Buku adalah nutrisi bagi pikiran. Kebanyakan orang ketika tubuhnya lemas langsung mencari makanan, tetapi pikirannya sering lupa diberi makan. Karena itu saya memberi nutrisi pikiran saya dengan membaca buku,” katanya sambil tersenyum.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Di tengah zaman yang serba cepat, ketika informasi datang tanpa disaring dan perhatian manusia semakin pendek, Syarif memilih jalan yang berbeda: memperkaya diri lewat bacaan.
Pilihan itu tidak murah.
Dalam kurun sekitar satu setengah tahun terakhir, ia mengaku telah menghabiskan hampir Rp200 juta hanya untuk membeli buku. Nilai yang bagi sebagian orang mungkin cukup untuk membeli sebuah kendaraan, tetapi bagi Syarif adalah investasi pengetahuan.
Kini, koleksi pribadinya mencapai sekitar 1.000 buku, memenuhi rak-rak di rumahnya. Sebagian sudah selesai dibaca, sebagian lain masih menunggu giliran.
Baginya, setiap buku adalah jendela yang membuka dunia baru, memperluas cara berpikir, sekaligus mengajarkan kerendahan hati bahwa selalu ada hal yang belum diketahui.
Kontras dengan pemandangan yang sering dijumpai di kafe-kafe kota.
Saat banyak anak muda duduk bersama namun sibuk menundukkan kepala menatap layar gawai masing-masing, Syarif justru memilih duduk bersama sebuah buku. Tak ada yang perlu dipamerkan. Tak ada yang harus diunggah ke media sosial. Yang ada hanyalah percakapan sunyi antara dirinya dan penulis yang mungkin hidup ratusan tahun lalu.
Di tengah kegaduhan zaman digital, ia seolah menjadi pengingat bahwa kecerdasan tidak lahir dari banyaknya informasi yang lewat di layar, melainkan dari kesediaan seseorang meluangkan waktu untuk membaca, berpikir, dan merenung.
Di tengah krisis literasi yang kerap dikeluhkan banyak kalangan, kisah Syarif Tjan membuktikan bahwa budaya membaca bukan soal usia, jabatan, atau kesibukan. Ia berawal dari kemauan untuk terus belajar. Sebab, orang yang berhenti membaca sejatinya sedang membatasi pertumbuhan pikirannya sendiri.
Syarif Tjan mungkin tidak sedang mengejar gelar sebagai pembaca terbanyak. Ia hanya sedang merawat satu keyakinan sederhana: pikiran, seperti tubuh, hanya akan tumbuh jika terus diberi asupan yang baik.
Dan bagibaginya, buku adalah nutrisi terbaik yang tak lekang oleh waktu—bekal untuk terus belajar, selama hayat masih dikandung badan.








Tinggalkan Balasan