KENDARI, INITIMES — Menjalani masa pidana bukan berarti berhenti belajar dan berkarya. Semangat itu terlihat dalam kegiatan pembinaan kemandirian yang digelar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Kendari, Senin (21/9/2026).

Sebanyak 43 warga binaan mengikuti pelatihan pembuatan tempe dan Pupuk Organik Cair (POC) yang digelar peserta magang bidang Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Perempuan Kendari.

Bertempat di Aula Lapas Perempuan Kendari, pelatihan tidak hanya diisi dengan penyampaian materi. Para warga binaan diajak terlibat langsung dalam setiap tahapan praktik, mulai dari mengolah kedelai untuk pembuatan tempe hingga meracik pupuk organik cair.

Dalam praktik pembuatan tempe, peserta diperkenalkan dengan sejumlah tahapan, mulai dari pemilihan dan pencucian kedelai, perebusan, perendaman, pemberian ragi, hingga proses fermentasi.

Sementara dalam pembuatan POC, warga binaan mempelajari proses pencampuran sejumlah bahan, di antaranya air beras, EM4, dan molases, yang selanjutnya difermentasi hingga menjadi pupuk organik cair.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para warga binaan tampak antusias mengikuti setiap tahapan, berdiskusi, serta mempraktikkan langsung keterampilan yang diberikan dengan pendampingan petugas.

Kepala Lapas Perempuan Kelas III Kendari, Agustina, A.Md.I.P., S.H., mengatakan pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan agar memiliki bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Kami terus mendorong warga binaan untuk mengembangkan keterampilan melalui berbagai pelatihan kemandirian. Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama berada di Lapas dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang produktif dan mandiri setelah kembali ke tengah masyarakat,” ujar Agustina.

Menurutnya, keterampilan yang dipelajari selama menjalani pembinaan dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif apabila ditekuni secara serius.

Pembuatan tempe, misalnya, dapat dikembangkan menjadi usaha pangan rumahan. Sementara POC bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian maupun budidaya tanaman.

Pelatihan tersebut juga tidak semata-mata berorientasi pada hasil produk. Lebih dari itu, kegiatan menjadi ruang bagi warga binaan untuk membangun kepercayaan diri, mengasah kreativitas, sekaligus menumbuhkan semangat untuk hidup mandiri.

Dari ruang pembinaan, keterampilan diasah. Dari keterampilan, kemandirian dibangun. Bekal tersebut diharapkan dapat menjadi modal bagi warga binaan untuk menatap kehidupan yang lebih produktif setelah kembali ke masyarakat.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam pengawasan petugas dengan situasi aman, tertib, dan kondusif.