
TIDORE — Dari kejauhan, Pulau Maitara tampak seperti potongan surga yang terapung di antara laut biru Maluku Utara. Gugusan pohon kelapa, perairan jernih, dan panorama yang pernah menghiasi uang pecahan Rp1.000 itu selama bertahun-tahun menjadi magnet wisatawan dari berbagai daerah.
Namun di balik keindahan yang memikat mata, tersimpan cerita lain yang justru ramai diperbincangkan di dunia digital.
Sejumlah wisatawan melontarkan kritik keras terhadap salah satu homestay di Pulau Maitara melalui ulasan Google Maps. Redaksi merangkum puluhan komentar yang mayoritas berisi keluhan mengenai pelayanan yang dianggap buruk, sikap pengelola yang dinilai tidak ramah, hingga pembatalan pemesanan secara sepihak yang merugikan pengunjung.
Salah satu ulasan datang dari Resa Rahmawati. Ia mengaku kecewa setelah menginap di lokasi tersebut dan menilai pengelola tidak menunjukkan tanggung jawab saat terjadi masalah pada villa yang disewakan.
“Giliran pembayaran cepat, tapi saat ada masalah malah saling lempar tanggung jawab. Pelayanannya buruk, fasilitas juga tidak sesuai harapan. Belum sampai jam check-out sudah disuruh keluar,” tulisnya.
Keluhan serupa disampaikan akun mlyti mul. Ia mengaku telah melakukan pemesanan jauh hari sebelumnya dan bahkan sudah membayar uang muka (DP). Namun, pemesanannya justru dibatalkan secara sepihak.
“Sangat tidak ramah dan tidak direkomendasikan. Sudah booking jauh-jauh hari, sudah DP, malah dibatalkan sepihak tanpa kompensasi apa pun. Cara bicaranya juga tidak sopan,” tulisnya dalam ulasan.
Kekecewaan juga disampaikan akun March_Anthony yang secara tegas menyebut homestay tersebut tidak layak direkomendasikan. Menurutnya, pembatalan booking dilakukan secara sepihak tanpa mempertimbangkan dampak yang dialami pelanggan.
Sementara itu, akun Rakyat Jelata mengaku telah memesan kamar sejak satu bulan sebelumnya. Namun sehari sebelum keberangkatan, pemesanannya dibatalkan dengan alasan adanya instruksi dari pejabat tertentu.
“Percuma booking kalau ujung-ujungnya dibatalkan. Hati-hati guys,” tulisnya.
Tak hanya itu, seorang wisatawan bernama Irwan yang berasal dari Kalimantan juga menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, Pulau Maitara memiliki potensi wisata yang luar biasa, namun pengalaman pelayanan yang diterima justru tidak memuaskan.
Deretan ulasan negatif yang tersaji secara terbuka di Google Maps kini menjadi perhatian publik. Di era digital saat ini, keputusan wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi sering kali ditentukan oleh pengalaman pengunjung sebelumnya yang dibagikan melalui media sosial maupun platform ulasan daring.
Karena itu, keluhan-keluhan yang muncul seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi pihak pengelola maupun pemerintah daerah. Apalagi sektor pariwisata tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman dan pelayanan.
Pemerintah Kota Tidore Kepulauan didorong untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan fasilitas wisata, termasuk homestay dan penginapan yang beroperasi di kawasan destinasi unggulan. Langkah tersebut dinilai penting agar pelayanan kepada wisatawan lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada kepuasan pengunjung.
Jika persoalan ini tidak segera dibenahi, keluhan serupa berpotensi terus bermunculan dan menggerus kepercayaan wisatawan. Padahal selama ini Pulau Maitara dikenal sebagai salah satu ikon pariwisata Maluku Utara yang menawarkan panorama eksotis dan menjadi kebanggaan masyarakat daerah.
Sebab pada akhirnya, wisatawan mungkin datang karena keindahan alam. Tetapi mereka akan kembali — atau memilih tidak kembali — karena pengalaman yang mereka rasakan.








Tinggalkan Balasan