
TERNATE, INITIMES — Api membakar lahan perkebunan warga di tengah kemarau panjang yang belum juga berakhir. Dari Dumdum, Malifut hingga Kao, kebakaran meluas dan menghanguskan puluhan hektar lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Asap tebal dan kobaran api kini menjadi ancaman bagi warga di sejumlah wilayah Kabupaten Halmahera Utara. Cuaca panas yang berlangsung berbulan-bulan membuat tanah, semak, dan tumbuhan mengering, sehingga api dengan cepat merambat ke kawasan perkebunan dan lahan pertanian masyarakat.
Di Kecamatan Malifut, kebakaran dilaporkan terjadi di beberapa titik sekaligus, yakni di belakang perkampungan Desa Bukit Tinggi, kawasan belakang Tanjung Barnabas, serta wilayah Kilo 16 dan Kilo 17 Malifut.
Kepala Desa Ngofa Bobawa, yang akrab disapa Udal, membenarkan terjadinya kebakaran tersebut. Ia mengatakan, puluhan hektar perkebunan warga di sejumlah lokasi di Malifut, serta wilayah Dumdum dan Kao, telah hangus dilalap api.
Bagi para petani, kebakaran ini bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Di balik tanaman yang hangus, ada sumber pendapatan keluarga yang ikut lenyap. Hasil panen yang sebelumnya diharapkan menjadi pemasukan, kini berubah menjadi abu.
Kondisi tersebut membuat warga dan pemilik kebun terdampak meminta perhatian serius dari pemerintah daerah, baik Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
“Kami meminta perhatian serius dari pemerintah. Lahan perkebunan kami banyak yang terbakar, sementara cuaca panas masih terus berlanjut. Kami butuh bantuan dan langkah konkret agar api tidak semakin meluas dan memusnahkan sisa kebun kami,” ujar salah satu warga yang lahannya terdampak.
Warga berharap pemerintah tidak hanya menunggu api membesar. Mereka meminta segera dilakukan pengerahan tim penanggulangan kebakaran untuk menangani titik-titik api yang masih menyala, sekaligus memberikan bantuan pemulihan bagi lahan perkebunan yang terdampak.
Selain itu, warga berharap adanya jaring pengaman sosial bagi petani yang kehilangan sumber penghasilan akibat kebakaran. Langkah antisipatif juga dinilai penting untuk mencegah api merambat ke permukiman warga maupun kawasan hutan lindung.
Hingga saat ini, sejumlah titik api dilaporkan belum sepenuhnya padam. Di tengah kemarau dan cuaca panas yang masih berlangsung, kekhawatiran warga pun belum berakhir.
Mereka kini berharap pemerintah benar-benar hadir di lapangan—bukan sekadar melihat lahan yang terbakar, tetapi ikut membantu menyelamatkan sumber kehidupan para petani yang tersisa.






Tinggalkan Balasan