
INITIMES– Musim panas di Jepang tahun ini kembali menunjukkan wajah yang mengkhawatirkan. Gelombang panas ekstrem menyelimuti sejumlah wilayah, dengan suhu udara menembus angka 40 derajat Celsius pada Kamis (22/7). Kondisi ini membuat pemerintah Jepang menetapkan status kokushobi, istilah yang digunakan untuk menandai hari dengan suhu yang sangat panas dan berisiko tinggi bagi kesehatan.
Kota Kumagaya di utara Tokyo serta Nagoya di wilayah Jepang bagian tengah menjadi beberapa daerah yang mencatat suhu mencapai 40°C. Di tengah cuaca yang membakar, pemerintah meminta masyarakat memaksimalkan penggunaan pendingin ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama guna mencegah dehidrasi maupun serangan heat-stroke.
Peringatan gelombang panas telah diberlakukan di 17 dari 47 prefektur di Jepang, terutama di kawasan barat negara tersebut. Para ahli mengingatkan bahwa risiko heat-stroke biasanya meningkat tajam setelah musim hujan berakhir, ketika kelembapan dan suhu udara sama-sama berada pada tingkat tinggi.
Dampak cuaca ekstrem ini sebenarnya sudah terasa sejak beberapa pekan terakhir. Sebelum suhu mencapai puncaknya pada pekan ini, sebanyak 4.580 orang dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat gangguan kesehatan yang dipicu panas, dalam periode 6 hingga 12 Juli.
Sebelumnya, pada Selasa (14/7), Badan Meteorologi Jepang telah melaporkan suhu maksimum mencapai 38,4°C di Kota Shimanto, Prefektur Kochi, dan 37,3°C di Kota Hita, Prefektur Oita. Tren kenaikan suhu yang terus berlangsung menjadi sinyal bahwa musim panas tahun ini kembali berada pada level yang mengkhawatirkan.
Sementara itu, Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat sedikitnya tujuh orang meninggal dunia selama gelombang panas berlangsung. Angka tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring berlanjutnya cuaca ekstrem.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang memang semakin akrab dengan musim panas yang lebih panjang dan lebih panas. Pada 2025, negara itu bahkan mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah, yakni 41,8°C. Saat itu, lebih dari 100.000 orang harus mendapatkan perawatan medis akibat heat-stroke.
Gelombang panas yang kembali melanda tahun ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kenyataan yang kini dirasakan langsung oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia.








Tinggalkan Balasan