TERNATE, Initimes — Di tengah hiruk pikuk Jalan Hasan Boesorie, tepat di depan sebuah ruko yang tak jauh dari Bank BNI Ternate, ada aroma yang selalu akrab menyambut pagi. Bukan hanya aroma kopi panas yang mengepul dari gelas-gelas sederhana, tetapi juga aroma perjuangan yang telah bertahan selama seperempat abad.

Di tempat itu, Jamian Syarif atau yang lebih dikenal sebagai Ibu An menjalani hari-harinya.

Sudah 25 tahun perempuan 53 tahun itu setia berjualan kopi, mie rebus, dan aneka jajanan. Lapak kecil di pinggir jalan tersebut bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang yang menyimpan ribuan cerita tentang perjuangan membesarkan lima anak hingga kini telah memberinya lima cucu.

Bagi sebagian orang, Ibu An mungkin dikenal sebagai penjual kopi. Namun bagi pelanggan yang sudah lama mengenalnya, ia justru lebih terkenal karena donat kentangnya.

“Kalau Ramadan biasanya saya jual donat kentang. Banyak yang kenal saya sebagai penjual donat daripada kopi,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun ada sisi lain dari Ibu An yang mungkin belum banyak diketahui orang.

Di sela waktu menunggu pelanggan datang, tangannya tak pernah benar-benar berhenti bekerja. Dengan sabar, ia menganyam potongan limbah plastik bekas pengikat kemasan kayu dan kabel strapping menjadi keranjang-keranjang cantik berwarna-warni.

Benda yang sering dianggap sampah itu berubah menjadi produk bernilai di tangannya.

Kemampuan menganyam tersebut diwarisinya dari orang tua sejak masih muda. Awalnya ia hanya membuat tikar, lalu mencoba bereksperimen dengan bahan bekas yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan.

Tak disangka, keterampilan sederhana itu kini menjadi sumber penghasilan tambahan yang membantu kebutuhan keluarga.

“Kalau ukuran besar bisa empat keranjang sehari. Kalau yang kecil lima sampai enam,” tuturnya.

Bahan bakunya pun tidak sulit didapat. Kadang ia mengambil dari toko bangunan, kadang ada orang yang sengaja mengantarkan limbah plastik kepadanya.

Keranjang hasil anyamannya dijual dengan harga mulai Rp40 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pengerjaan. Dalam sehari, terkadang dua keranjang bisa terjual. Meski ada juga hari-hari ketika tak satu pun pembeli datang.

Tetapi bagi Ibu An, rezeki tak pernah perlu dikejar dengan keluhan.

Di depan lapaknya, deretan keranjang tersusun rapi berdampingan dengan gelas kopi yang siap disajikan untuk pelanggan setia. Tukang ojek, penjahit sepatu, pekerja sekitar, hingga warga yang sekadar mampir berbincang menjadi bagian dari kesehariannya.

Sambil menuangkan kopi, tangannya tetap lincah menganyam. Seolah waktu tak pernah terbuang sia-sia.

“Alhamdulillah, ini jadi hobi sekaligus menambah rezeki,” katanya singkat.

Di era ketika banyak orang sibuk mencari peluang di dunia digital, kisah Ibu An hadir dengan cara yang sederhana namun menginspirasi. Ia mengajarkan bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang, kreativitas justru muncul dari kemampuan melihat nilai pada sesuatu yang dianggap tak berguna.

Dari limbah plastik, lahirlah keranjang. Dari secangkir kopi, mengalir rezeki. Dan dari ketekunan yang dijaga selama puluhan tahun, lahir sebuah pelajaran berharga: bahwa kerja keras, rasa syukur, dan semangat untuk terus berkarya tak pernah mengenal usia.

Di sudut kecil Kota Ternate itu, Ibu An terus merajut hidupnya—satu anyaman, satu senyuman, dan satu cangkir kopi dalam satu waktu.