TERNATE, INITIMES — Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Wamenaker RI), Dr. Afriansyah Noor, secara resmi menutup Pelatihan Vokasi Nasional Gelombang IV sekaligus membuka Pelatihan Peningkatan Produktivitas di Aula Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ternate, Jumat (18/9/2026).

Sebanyak 416 peserta dinyatakan lulus dari 26 jenis pelatihan vokasi nasional pada gelombang tersebut. Pada kesempatan yang sama, pemerintah juga membuka kelas peningkatan produktivitas yang diikuti 50 pekerja dari sejumlah perusahaan di Maluku Utara.

Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara Drs. Samsuddin A. Kadir, Kepala BPVP Ternate, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Maluku Utara, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Ternate, Dekan Fakultas Budaya Universitas Khairun (Unkhair), serta jajaran pimpinan perusahaan, akademisi dan ratusan peserta pelatihan.

Dalam arahannya, Afriansyah Noor menegaskan bahwa kehadirannya di Maluku Utara merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat kualitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di daerah.

Menurutnya, pengembangan keterampilan tenaga kerja tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan dunia usaha.

“Kehadiran kami di sini adalah wujud kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Sesuai arahan dan direktif Presiden Prabowo Subianto, fokus utama kita adalah mendongkrak skill dan kompetensi SDM Indonesia melalui program magang nasional dan pelatihan vokasi nasional,” ujar Afriansyah.

Ia menjelaskan, pada Pelatihan Vokasi Nasional Gelombang IV terdapat 26 jenis pelatihan yang diikuti ratusan peserta. Sementara itu, pelatihan peningkatan produktivitas diikuti 50 pekerja dari berbagai perusahaan, di antaranya PT Bela, PT Position, dan PT Feni Haltim.

Kementerian Ketenagakerjaan, lanjut Afriansyah, menargetkan 270.000 peserta mengikuti pelatihan vokasi nasional sepanjang 2026. Program tersebut diberikan secara gratis dan dilengkapi uang saku, terutama bagi lulusan baru SMA/SMK sederajat.

Afriansyah juga menyoroti besarnya potensi industri di Maluku Utara yang dinilai perlu diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja lokal.

“Provinsi Maluku Utara memiliki potensi industri yang sangat besar. Oleh karena itu, kita harus menerapkan konsep link and match agar lulusan pelatihan langsung terserap oleh kebutuhan pasar kerja setempat,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan kompetensi tenaga kerja menjadi semakin penting di tengah bonus demografi Indonesia. Para peserta pelatihan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri, tetapi juga memiliki daya saing untuk memasuki pasar kerja internasional.

Untuk mendukung hal tersebut, peserta pelatihan akan dibekali kompetensi dan sertifikasi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

“Ke depan, dengan bonus demografi yang melimpah, kita siapkan mereka agar mampu bersaing hingga ke luar negeri dibekali sertifikasi resmi dari BNSP,” tegas Afriansyah.