
Dulu Mencuci Pakaian Demi Membesarkan Dua Putrinya, Kini Hanya Mampu Menatap Langit-langit Kamar Sambil Menahan Nyeri yang Tak Kunjung Pergi
TANGAN itu pernah begitu kuat.
Setiap pagi hingga senja, tangan itu tak pernah berhenti mengucek pakaian milik warga. Air sabun, cucian yang menggunung, dan lelah adalah bagian dari keseharian Nurmala Tjiuda. Semua ia jalani demi satu tujuan sederhana: memastikan dua anak gadisnya tetap bisa makan dan bersekolah.
Namun hari ini, tangan yang sama bahkan tak lagi mampu mengangkat tubuhnya sendiri.
Di sebuah kamar sederhana di rumah kakaknya, di Kelurahan Afe Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, perempuan berusia 43 tahun itu hanya bisa terbaring lemah di atas kasur tipis.
Wajahnya pucat. Tulang pipinya menonjol. Tubuh yang dahulu berbobot sekitar 90 kilogram kini tinggal sekitar 40 kilogram. Sesekali ia menarik napas panjang, seolah sedang bernegosiasi dengan rasa sakit yang telah menemaninya hampir satu tahun terakhir.
Ketika ditemui, suaranya terdengar lirih. Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya seperti membutuhkan tenaga yang sangat besar.
“So tara bisa buat apa-apa lagi ini,” ucapnya pelan.
Kalimat singkat itu menggambarkan bagaimana penyakit telah merampas hampir seluruh kehidupannya.
Sebelum divonis menderita kanker serviks pada Desember 2025, Nurmala adalah sosok ibu tunggal yang menjalani hidup dengan penuh perjuangan.
Tidak ada suami yang mendampinginya. Tidak ada tempat berbagi beban. Semua tanggung jawab membesarkan dua anak perempuan dipikul seorang diri.
Ia bekerja sebagai tukang cuci pakaian milik warga. Bila ada waktu luang, ia membantu di sebuah warung makan demi menambah penghasilan.
Pendapatan yang diterima memang tidak pernah besar. Kadang cukup membeli beras untuk beberapa hari, kadang pula harus memilih antara kebutuhan dapur atau biaya sekolah anak-anaknya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Nurmala tak pernah mengeluh. Baginya, selama masih mampu bekerja, selama kedua putrinya masih bisa tersenyum, semua rasa lelah terasa layak diperjuangkan.
Namun semua berubah ketika rasa nyeri mulai menyerang tubuhnya.
Awalnya ia mengira hanya sakit perut biasa yang akan hilang dengan sendirinya. Hari demi hari berlalu, tetapi rasa sakit justru semakin menjadi.
Nyeri itu perlahan menggerogoti tubuhnya.
Ia mulai kehilangan tenaga. Berat badannya turun drastis. Hingga akhirnya ia tak lagi mampu berdiri.
Kondisinya semakin memburuk hingga keluarga harus membopongnya ke RSUD Chasan Boesoirie Ternate.
Selama empat hari ia menjalani perawatan.
Namun keterbatasan penanganan membuat dokter menyarankan agar Nurmala dirujuk ke Manado untuk mendapatkan pengobatan yang lebih memadai.
Setelah keluar dari rumah sakit, ia hanya menjalani rawat jalan di Puskesmas Jambula dengan obat-obatan pereda nyeri.
“Saya juga sempat kontrol di rumah sakit tentara, lalu lanjut rawat di puskesmas, tapi hanya dengan obat pereda nyeri saja,” tuturnya.
Harapan untuk sembuh sebenarnya masih ada.
Namun harapan itu seolah tertahan oleh satu kenyataan yang tak sanggup ia lawan: biaya.
Sebagai ibu tunggal yang kini sudah tidak lagi memiliki penghasilan, Nurmala tidak memiliki kemampuan untuk membiayai perjalanan maupun pengobatan ke Manado.
“Saya disarankan untuk rujuk ke Manado, tapi saya tidak punya apa-apa,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengaku pernah diminta menyerahkan fotokopi KTP dan nomor telepon oleh pihak rumah sakit.
Menurut informasi yang diterimanya, data tersebut akan diteruskan kepada Dinas Sosial agar dapat memperoleh bantuan biaya pengobatan.
Namun hingga kini, kabar yang dinantikannya belum juga datang.
“Katanya akan disampaikan ke Dinas Sosial supaya dibantu biaya pengobatan. Tapi sampai sekarang belum ada kabar,” ujarnya lirih.
Di sudut kamar tempat ia menghabiskan hari-harinya, Nurmala lebih banyak memandang langit-langit rumah.
Sesekali terdengar suara anak-anak yang bermain di luar. Namun bagi dirinya, dunia seakan berhenti sejak penyakit itu datang.
Bukan hanya tubuhnya yang melemah.
Penyakit itu juga merenggut kemampuan seorang ibu untuk mencari nafkah dan mengurus kedua putrinya.
Kini seluruh kebutuhan hidupnya bergantung pada bantuan keluarga dan orang-orang yang masih peduli.
Meski demikian, Nurmala belum menyerah.
Di tengah tubuh yang semakin rapuh dan rasa sakit yang datang tanpa mengenal siang maupun malam, ia masih menyimpan harapan.
Harapan untuk kembali sehat.
Harapan untuk kembali berdiri.
Harapan untuk kembali menjadi ibu yang mampu memeluk dan menghidupi anak-anaknya.
Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia menitipkan harapan itu kepada pemerintah dan para dermawan.
“Saya hanya ingin sembuh. Saya ingin bisa kembali bersama anak-anak saya. Saya juga berharap Ibu Gubernur dan Pemerintah Kota bisa membantu,” ucapnya pelan.
Kalimat itu sederhana.
Namun di baliknya, tersimpan doa panjang seorang ibu yang sedang berjuang mempertahankan hidup—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi demi masa depan dua putri yang masih membutuhkan pelukan dan kasih sayangnya.








Tinggalkan Balasan